Senin, 14 Maret 2016

Kebangkitan Nedacis






                Di suatu hari, tim basket putri di sekolah Nedacis melakukan latikhan dan pertandingan persahabatan dengan sekolah Nesacik. Pertandingan berlangsung dengan sangat sengit. Kapten tim Nedacis dan anggota timnya berjuang mempertahankan ring mereka. Para penonton berteriak mendukung tim kebanggaan mereka. Masing masing tim saling memperebutkan bola, dan mencetak skor.  Hingga pertandinganpun berakhir dengan skor 24 – 27.
            Sore itu cuaca masih terlihat cerah, matahari seakan masih enggan untuk kembali ke peraduannya. Angin yang sepoi-sepoi itu juga turut ikut serta pada sore hari yang cerah. Namun, cuaca cerah sore itu sangat bertolak belakang dengan suasana hati tim basket putri Nedacis.
"Dasar payah! Kenapa kalian bisa kalah dengan tim basket Nesacik?" bentak pelatih basket putri Nedacis, Pak Taryo. "Maaf, pak Taryo." Jawab seluruh anggota basket putri sambil menundukkan kepalanya."Ini sangat memalukan! Selama ini kalian sudah memegang kejuaraan tingkat Nasional 3 kali berturut-turut, tapi kenapa sekarang dengan sekolah Nesacik saja bisa kalah, hah!" bentak sang Pelatih yang terkenal sangat galak itu sekali lagi. Seluruh anggota basket putri itu hanya diam saja dan menundukkan kepala, tak berani berucap ataupun menatap wajah pelatihnya itu.
"Terutama kau! Sarah! Sebagai kapten, kau itu harus bisa mencegah lawan yang akan memasukkan bola! Dasar kapten payah! Tidak bisa diandalkan!" maki pelatih itu sambil menatap wajah Sarah yang sedang menunduk."Maaf, Pak." Jawab Sarah, kapten tim basket putri itu dengan lirih.
"Dasar payah! Ini sangat memalukan sekali! Kenapa kau jadi lemah seperti ini, hah!" ucapnya sekali lagi dengan nada yang sudah sangat emosi.  "Semuanya, ayo bubar!" ucap Pak Taryo yang sudah puas telah memarahi habis-habisan anggota tim basket putri sambil berlalu pergi.
Setelah kepergian pelatihnya tadi, Sarah langsung terduduk lemas di tengah lapangan basket, tempat ia dan para anggotanya dimarahi habis-habisan oleh sang Pelatih.
"Sudahlah, perkataan pelatih tadi jangan kau masukkan ke dalam hati ya, Kapten." Ucap Tany sambil menepuk pelan pundak Sarah.
"Jangan terlalu kau pikirkan ucapan Pak Taryo tadi. Lagipula dalam pertandingan itu pasti ada kemenangan dan kekalahan kan?" Lina juga ikut menyemangati kaptennya yang terlihat sedih itu.
"A..aku memang kapten payah yang tidak bisa diandalkan!" ucap Sara yang sudah mulai terisak itu. "Aku ini benar-benar payah! Payah!" lanjutnya sambil menenggelamkan wajahnya diantara kedua lutut kakinya yang di tekuk.
"Sudahlah, jangan berkata seperti itu, Sarah. Jangan kau hiraukan perkataan pelatih. Benar kata Lina, dalam pertandingan kita tidak bisa selalu menang kan? Pasti ada saatnya kita kalah." Ucap Tany yang berusaha menenangkan Kaptennya itu. Mendengar dukungan dari teman-temannya, Sarah merasa kesedihannya menguap entah kemana. “Hah... kalau begitu, ayo kia buktikan pada Pak Taryo kalau kita bisa mengharumkan nama sekolah  ini saat Turnamen Nasional nanti.”Ucap Sarah seraya tersenyum kepada teman-temannya. Melihat senyuman sang kapten, mereka pun ikut tersenyum. Kemudian saling mendekat dan menautkan tangan. “NEDACIS...”seru sang kapten. “Pasti bisa!” seru tim basket serempak.
                Sejak saat itu, mereka berlatih dengan keras. Setiap pulang sekolah, mereka selalu berlatih sekalian mengerjakan tugas dan pekerjaan rumah sambil mendiskusikan strategi yang akan mereka gunakan. Hari yang ditunggu – tunggupun tiba. Mereka bertanding basket dengan serius, demi mengharumkan nama sekolah. Hingga pada akhirnya, kejuaraan mereka dapatkan dengan skor 30 – 38.